Photo by bluecarbonsociety.org

 

Tulisan oleh Gabriel Hutajulu (Rekayasa Kehutanan 2017)

Karangan merupakan salah satu materi bahasa indonesia yang terdiri dari 5 jenis karangan mulai dari narasi, deskriptif, eksposisi, persuasi, dan argumentasi. Artikel ini merupakan salah satu jenis karangan deskriptif. Isi artikel ini menjelaskan tentang pengertian, manfaat, dan kondisi karbon biru di Indonesia. Selengkapnya dibahas dalam paragraf-paragraf berikut ini.

Apa itu karbon biru?

Karbon salah satu unsur kimia yang terdapat di alam. Stok karbon terbanyak yang berada di Bumi adalah karbon dioksida (CO2). Selain itu juga terdapat karbon dalam makhluk hidup, karbon tanah, dan karbon biru. Karbon biru adalah karbon yang diserap dan disimpan di dalam laut dan ekosistem pesisir. Karbon ini disebut biru karena terbentuk di bawah air. Karbon biru tersimpan pada lahan basah pasang surut, seperti hutan mangrove, dan padang lamun, di dalam tanah, biomassa hidup dan biomassa mati dalam kolam karbon. Hutan mangrove merupakan ekosistem kaya karbon yang mampu menyimpan tiga kali lebih banyak karbon per hektar dibanding hutan terestrial.

Selain menyerap dan menyimpan karbon biru, ekosistem hutan mangrove memiliki manfaat lain. Ekosistem hutan mangrove berperan penting dalam membantu perekonomian masyarakat terutama masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Masyarakat pesisir dapat memanfaatkan hasil-hasil hutan mangrove untuk dijual. Pelestarian ekosistem hutan mangrove maupun padang lamun dapat memberikan dampak dan sumbangan yang besar bagi generasi yang akan datang.

Mengapa karbon biru penting ?

Jasa ekosistem yang disediakan oleh hutan mangrove dan padang lamun dalam menanggulangi perubahan iklim global adalah dengan menyerap dan menyimpan sejumlah besar karbon biru yang berasal dari atmosfer dan samudra. Aktivitas menggunduli lahan basah atau merusak ekosistem mangrove maupun padang lamun berarti melepas simpanan karbon biru ke atmosfer yang dapat memicu terjadinya perubahan iklim global. Faktanya, sekitar 340.000 hingga 980.000 Ha ekosistem ini dihancurkan setiap tahunnya. Apabila hal ini tidak dicegah, maka ekosistem tersebut akan menjadi sumber gas karbon dioksida rumah kaca yang besar. Oleh karena itu, manajemen ekosistem karbon biru yang baik menjadi sangat penting. Berbagai negara mulai melangkah maju untuk memenuhi komitmen dalam Perjanjian Paris, yakni untuk melindungi dan memanfaatkan samudera, laut dan sumber daya perairan secara berkelanjutan.

Blue Carbon atau karbon biru saat ini memang belum banyak diperbincangkan dalam keterkaitannya dengan perubahan iklim. Sebab selama ini, perhatian terhadap perubahan iklim masih banyak ditujukan pada bahan-bahan fosil maupun perlindungan hutan. Padahal karbon biru di Indonesia ternyata juga memiliki peran penting dalam pengendalian perubahan iklim dunia mengingat Indonesia memiliki wilayah mangrove yang cukup luas. 

Bagaimana kondisi karbon biru di Indonesia ?

Sebagaimana siaran pers yang diterima GNFI, Conservation International (CI) Indonesia pada 18 Oktober yang lalu mengungkapkan bahwa Indonesia ternyata memiliki luasan wilayah mangrove sebesar 3,1 juta hektare menurut data tahun 2015. Luasan wilayah tersebut dinilai setara dengan 22 persen ekosistem mangrove seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, wilayah hutan mangrove terluas terletak di Papua Barat yang luasnya mencapai 482,029 hektare. Hutan mangrove merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Hutan mangrove sendiri merupakan salah satu ekosistem karbon biru yang mampu untuk menyerap karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktifitas perubahan energi termasuk aktifitas manusia.

Maine Program Director CI Indonesia, Victor Nikijuluw menjelaskan bahwa ternyata stok karbon pada empat kawasan yang diteliti setara dengan jumlah karbon yang dihasilkan oleh 19,7 juta unit kendaraan bermotor. Jumlah ini sama dengan pemakaian 39,3 miliar liter bensin setiap tahunnya. Karbon biru sendiri di tingkat Internasional telah digaungkan sebagai salah satu ekosistem yang mampu mengurangi emisi karbon dunia. Hal tersebut tersebut secara resmi digaungkan pada UN Cilmate Change Conference of The Parties (COP) ke 22 yang dilaksanakan di Maroko tahun 2016 yang lalu.

Source : Barbier EB, et al. 2011. The value of setuarine and coastal ecosystem services. Ecological Monographs. 81(2): 169 193.

Murray, B.C., Pendleton, L., and Sifleet, S. 2011. State of the Science on Coastal Blue Carbon: A Summary for Policy Makers. In: Nicholas Institute for Environmental Policy Solutions Report NIR 11-06, P. 1-43.

https://forestsnews.cifor.org/55426/apa-itu-karbon-biru?fnl=id

 

Kembali Berkenalan dengan ‘Blue Carbon’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *