Photo by accuweather.com

Tulisan oleh Aslama Nuraulia (Rekayasa Kehutanan ITB 2017)

Bencana banjir di Indonesia telah menimbulkan kerugian triliunan rupiah dengan korban jiwa yang tidaklah sedikit. Dalam interval 1991-1995 banjir di Indonesia telah membuat sebanyak 4.246 jiwa meninggal, 6.635 luka-luka, sekitar 7 juta menderita serta 324.559 rumah mengalami kerusakan. Perkiraan kerugian tersebut belum memperhitungkan bencana banjir dalam skala kecil, kerugian immaterial dan kerugian tidak langsung yang tidak sedikit jumlahnya (BNPB, 2013).

Beberapa waktu lalu banjir pun menjadi perkara yang serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah Kalimantan dan Sulawesi. Tidak hanya mengenangi satu daerah administratif saja, banjir pun melanda beberapa kawasan sehingga akses dan pelayanan masyarakat menjadi terganggu. Dampak dari banjir pun secara langsung dan tidak langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Gangguan kesehatan, keterbatasan akses dan pelayanan masyarakat bahkan hingga kerugian secara materi pun ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah di wilayah tersebut.

Tidak dapat dipungkiri, pada dasarnya banjir merupakan peristiwa alam yang kedatangannya tak terduga dan tentunya dianggap bencana. Namun, permasalahannya banjir di wilayah kalimantan dan sulawesi terasa sedikit aneh. Bagaimana bisa kawasan yang dapat dikatakan sebagai salah satu lobus dari keseluruhan paru paru dunia ini tergenang air banjir?

Banjir terjadi karena adanya gangguan terhadap siklus air. Dalam prosesnya, siklus hidrologi memerlukan vegetasi sebagai agen penahan aliran air. Mengapa aliran air perlu ditahan? Lalu bagaimana peran vegetasi dalam menangani gangguan siklus air?

Pada saat musim penghujan, presipitasi air terjadi dengan intensitas yang tinggi. Air yang turun melalui proses presipitasi akan mengalami infiltrasi atau perkolasi dan sebagiannya lagi akan mengalir di permukaan (run off). Vegetasi memiliki kemampuan menyerap air melalui perbedaan tekanan osmotik akar dengan tanah, sehingga air yang terdapat dalam pori-pori tanah sebagian masuk ke dalam perakaran vegetasi. Pada saat musim kemarau, air evaporasi air terjadi dengan intensitas yang tinggi. Hal tersebut dapat mengakibatkan kadar air tanah menjadi berkurang dan membuat lingkungan menjadi lebih kering. Namun keberadaan vegetasi dapat mengurangi intensitas evaporasi dengan mekanisme fisiologi vegetasi akibat adanya rangsangan kekeringan.

Ketiadaan vegetasi dalam siklus air dapat menyebabkan genangan permukaan (banjir). Genangan permukaan terjadi karena pori-pori tanah telah mencapai titik jenuh untuk menampung air akibat infiltrasi air dalam jumlah besar saat musim penghujan. Begitupun sebaliknya. Intensitas evaporasi saat musim kemarau menjadi lebih besar, karena tidak ada vegetasi yang menahan air tanah dalam tubuhnya. Bencana kekeringan pun tak dapat dipungkiri lagi.Dapat dikatakan, adanya gangguan terhadap kondisi vegetasi dapat menyebabkan gangguan terhadap siklus air. Oleh karena itu, alih fungsi lahan hutan dan deforestasi berskala besar di wilayah Kalimantan dan Sulawesi dapat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir beberapa lalu.

Diperlukan penanganan khusus terkait penyelesaian permasalahan banjir baik dari sisi gaya hidup masyarakat maupun sisi kebijakan pemerintah. Salah satu faktor yang mempengaruhi gaya hidup terkait lingkungan masyarakat adalah media, khususnya media kehutanan. Keberadaan media mengenai air, hutan dan lingkungan dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat terlebih bila berita dalam media tersebut viral di internet.

Banjir: Bentuk Gangguan Terhadap Hubungan Siklus Hidrologi dan Vegetasi

One thought on “Banjir: Bentuk Gangguan Terhadap Hubungan Siklus Hidrologi dan Vegetasi

  • September 19, 2020 at 1:35 am
    Permalink

    excellent put up, very informative. I’m wondering why the opposite specialists of this sector do not understand this. You should continue your writing. I am confident, you have a great readers’ base already!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *