Oleh: Adenna Yuska Nurrahman (11514035), BW’14

 

Myzomela irianae (Sumber: beritagar.id)

Beberapa waktu lalu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya melaporkan temuan spesies baru berupa burung dan Orang utan yang ditemukan di Indonesia. Spesies burung tersebut adalah Myzomela irianae, yang berasal dari Pulau Rote , Provinsi NTT. Pelaporan temuan spesies burung baru ini kepada Presiden Joko Widodo sekaligus meminta izin untuk menggunakan nama ibu negara sebagai nama spesies dari burung tersebut. Golongan (Genus) burung yaitu Myzolae ini sebenarnya sudah termasuk ke dalam daftar burung yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah nomor 7/1999 dan Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekositemnya. Informasi lainnya yang dilaporkan kepada Presiden terkait penemuan spesies burung ini juga disertai dengan ciri-ciri dari burung tersebut. Ciri-ciri umum dari burung tersebut adalah memiliki bobot sekitar 32,33 gram , panjang tubuh dari paruh hingga ekor 17,2 cm. Perilaku dari burung ini adalah bersuara ketika terbang dan seringkali berdiam diri di hutan, semak-semak, kebun, dan pohon yang sedang berbunga. Untuk makanannya, burung ini sering dijumpai sedang memakan nektar pada bunga pohon Jati.

Orangutan (Sumber: bbc.com)

Selain penemuan jenis burung baru, penemuan lainnya yang turut mencuri perhatian dunia adalah ditemukannya spesies orangutan baru yang ada di Indonesia. Orangutan tersebut memiliki nama jenis Pongo tapanuliensis. Penemuan jenis ini menjawab teka-teki dunia sains akan anehnya sifat genetik dari orangutan tersebut. Penelitian terkait spesies orangutan baru ini tidak melalui proses yang mudah. Para peneliti dari University of Zurich, Liverpool John Moores University, dan Sumatran Orangutan Conservation Program telah bekerja sama sejak tahun 1997. Penelitian ini bermula dari ditemukannya orangutan yang telah mati dan diambil beberapa bagian tubuhnya untuk kemudian diteliti secara genetis. Aspek lain yang menjadi fokus dari penelitian ini adalah tengkorak dari spesies baru ini pun berbeda dengan spesies orangutan lainnya (P. pygmaeus dan P. abelli). Salah satu peneliti, yaitu Prof. Michael Krutzen dari University of Zurich mengatakan bahwa analisis secara genetis akan memperlihatkan sejarah dari spesies tersebut secara evolusi. Bahkan kita dapat mengetahui waktu dari populasi jenis itu terpecah menjadi beberapa spesies baru. Prof. Wich mengatakan kepada media bahwa pencapaian besar ini berkat kerja keras dari gabungan studi genetis, anatomis , dan akustik selama 20 tahun ke belakang. Hal ini juga menjadi mimpi dari beberapa ahli biologi genetis untuk mengungkap teka-teki yang selama ini masih menjadi pertanyaan. Prof. Wich juga menambahkan bahwa hanya ada 7 spesies dalam keluarga Great Apes (tidak termasuk manusia), sehingga menambah satu spesies baru pada sebuah kumpulan kecil merupakan hal yang luar biasa. Namun, dibalik pencapaian luar biasa pada abad ini, penemuan spesies baru tersebut sekaligus menjadikannya spesies orangutan yang paling terancam punah (Critically endangered) di dunia karena jumlahnya yang diperkirakan hanya tersisa 800 ekor di alam. Hal ini menyebabkan berbagai pihak harus berusaha keras dalam menjaga dan melestarikan ekosistem spesies orangutan baru ini agar tidak kehilangan aset penting dalam dunia sains.

 

Sumber :

http://lipi.go.id/lipimedia/klhk-laporkan-temuan-spesies-burung-dan-orang-utan-baru/19303

http://www.bbc.com/news/science-environment-41848816

New Member of Great Apes and Bird Familiy in Indonesia

3 thoughts on “New Member of Great Apes and Bird Familiy in Indonesia

  • August 26, 2018 at 9:07 am
    Permalink

    The nail will continue to cultivate normally and change will be seen for your first 3
    to 4 months. The term ‘aplastic’ means the marrow is suffering
    from an aplasia that renders it struggling to function properly.
    s Re – Nu with Moisture – Loc contacts cleaning solution has become blamed by some for
    that outbreak, since 76% of contacts wearers who contracted fungal keratitis used
    that one solution, whilst it holds merely a 10% market
    share in lens cleaning solutions.

    Reply
  • October 24, 2018 at 9:26 am
    Permalink

    nah hal ini menyebabkan berbagai pihak harus berusaha keras dalam menjaga dan melestarikan ekosistem spesies orangutan baru ini agar tidak kehilangan aset penting dalam dunia sains.

    Reply
  • October 25, 2018 at 8:23 am
    Permalink

    Punahnya berbagai satwa langka disebabkan karena ketidakseimbangan ekosistem hutan …
    Pengerusakan tak bertanggung jawab oleh manusia berimbas pada punahnya berbagai jenis satwa langka …
    Maka dari itu diharapkan seluruh komponen masyarakat dan pemerintah untuk sama sama menjaga san melestarikan hutan …

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *