Peneliti dari CIFOR (Center for International Forestry Research) tengah mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak untuk melakukan riset yang berhubungan dengan pengembangan agroforestry di Indonesia. Proyek ini dikembangkan sejak 2016 silam. Pengujian pertama kali dilakukan oleh Yves Laumonier, seorang ahli ekologi tanaman dan pemetaan vegetasi. Yves memang sebelumnya sudah memiliki ketertarikan terhadap mesin terbang. Hal tersebut mendorongnya untuk mengembangkan inovasi mesin terbang yang berkaitan dengan disiplin ilmunya. Uji coba pertama kali ia lakukan di hutan Kalimantan, dengan melakukan pemetaan terhadap bentang alam. Kemudian pada tahun 2017 Yves kembali guna memantau dinamika bentang alam dan melihat ladang mana yang (penduduk) bakar untuk bercocok tanam sejak 2016.

Menurut Yves, Drone dapat difungsikan dalam melakukan pengamatan bentang alam dan pengindraan jarak jauh seperti satelit. Ia juga menuturkan bahwa terdapat kelebihan menggunakan drone dibandingkan satelit. Kelebihan menggunakan drone adalah dapat memantau struktur bentang alam yang sangat kompleks, seperti bentang alam perladangan berpindah dan bentang alam hutan. Sebagian besar satelit tidak dapat membuat pembedaan karena resolusi. Satelit dengan resolusi lebih tinggi pun sangat mahal dan seringkali sangat sulit untuk mendapatkan datanya secara presisi. Namun dengan drone, dapat dipetakan pola-pola kecil bentang alam dengan baik, tanpa diperlukan biaya yang mahal dan terkesan lebih sederhana. Tutupan awan juga merupakan masalah besar bagi satelit dan pemakaian drone dapat menjadi alternatif karena dapat menghindari tutupan awan. Selain itu, drone juga dapat digunakan untuk koleksi organ daun yang berada di permukaan untuk pohon yang tinggi, yang sulit untuk dikoleksi secara manual.

 

Sumber: https://forestsnews.cifor.org/57869/manfaat-teknologi-drone-bagi-riset-kehutanan?fnl=id

Pengembangan Teknologi Pesawat Tanpa Awak dalam Pemetaan Lahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *